PROPOSAL

PENGARUH TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH SEMENTARA TERHADAP LINGKUNGAN PEMUKIMAN DI WILAYAH GEBANG

DI SUSUN OLEH:

LUGITA HERWANI

(6307030017)

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI

SURABAYA

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

2007

PENGARUH TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH SEMENTARA TERHADAP LINGKUNGAN PEMUKIMAN

DI WILAYAH GEBANG

TUGAS PROPOSAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu

pada

Program Studi Bahasa Indonesia

Teknik Permesinan Kapal

Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Di susun oleh :

LUGITA HERWANI

NRP. 6307030017

Disetujui oleh Dosen :

ENI

SURABAYA, DESEMBER, 2007

ABSTRAK

Kota Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan yang ada di Indonesia. Banyak tempat-tempat pembuangan sampah yang salah. Masyarakat yang kurang memahami lingkungan banyak yang menyemarinya dengan sampah. Dan di kota-kota besar seperti Surabaya sering kali kita mendengar lewat media masa pada musim penghujan daerah ini terkena banjir. Dikarenakan dari masyarakat yang membuang sampah yang sembarangan seperti, membuang sampah di selokan, sungai, dan tempat umum lainnya. Serta tempat pembuangan sementara yang kurang setrategis. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui pentingnya kesehatan bagi mereka. Tapi mereka tidak menanggapi himbauan tersebut. Tempat pembuangan sampah seharusnya dijauhkan beberapa kilometer dari pemukiman. Hal ini yang membuwat penykit-penyakit baru bermunculan, dikarenakan tempat pembuangaan sampah dekat dengan pemukiman.

Hasil penelitian ini menyimpulkan, faktor utama penyebab banjir dan timbulnya penyakit-penyakit di Kota Surabaya adalah sistem tempat pembuangan sampah. Faktor utama ini didukung dengan faktor-faktor lainnya yaitu kurangnya tingkat kesadaran untuk menjaga lingkungaan, kurangnya partisipasi masyarakat, sistem pengawasan yang dilakukan, kurangnya koordinasi, pemberdayaan kelembagaan dalam pengaturan tempat pembuangan sampah. Upaya yang perlu dilakukan guna meningkatkan pemanfaatan sampah di Kota Surabaya adalah ; rencana tempat pembuangan sampaah digunakan sebagai salah satu kriteria dalam pelaksanaan program lingkungan bersih, melibatkan peran serta masyarakat sebesar-besarnya, meningkatkan kegiatan sosialisasi tentang pembuangan sampah yang benar, meningkatkan kemampuan petugas kebersihan yang selalu siaga, menyusun rencana penempatan sampah yng setrategis dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang, dalam pasal 1 ayat (3) disebutkan bahwa penataan ruang terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian rencana tata ruang. Pasal 15 ayat 1 menyatakan, bahwa pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang yang didasarkan atas rencana tata ruang. Dalam penjelasan ditegaskan bahwa penyelenggaraan pemanfaatan ruang tersebut, berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan swasta, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Maka pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah diterapkan, sehingga pemanfaatan ruang tidak akan bertentangan dengan rencana tata ruang pembuaangan sampah serta tempat pemukiman yang layak untuk dijadikan tempat tinggal bagi masyarakat.

Pemerintah Kota Surabaya hampir seluruhnya telah memiliki Rencana Tata Ruang pembuangan sampah dengan harapan dapat dijadikan instrumen kebijakan yang tepat dalam pengaturan perkembangan fisik dan tata ruang tempat pembuangan sampah. Pembangunan kota yang telah ditetapkan sebelumnya, dimana pencapaian kota yang bersih, sehat dan indah. Namun demikian, kenyataan di lapangan bisa berbeda dengan apa yang direncanakan. Mengingat dinamika perkembangan kota yang terjadi sangat cepat, sebagaimana dikemukakan oleh para pakar, bahwa kota surabaya sebagai kota yang metropolitan.           Penataan tempat pembuangan sampah saat ini tidak lagi diperhatikan oleh masyarakat. Dan kurang mengertinya dengan persoalan sampah dari pihak masyarakat maupun pemerintah. Akar dai persoalan ini yang paling dalam adalah antroposentrisme yakni maanusia sebagai sentral utama. Sejauh ini manajemen persampahan di kota ini masih saja tidak mengena tepat pada sasaran. Perkembangan Kota Surabaya merupakan titik awal diperlukannya pengendalian atas perubahan penggunaan lahan sebagai tempat pembuangan sampah untuk dijadikan pemukiman bagi masyarakat yang peerekonomiaanya lemah.

Mengingat kota Surabaya sebagai pintu gerbang Kawasan Indonesia Timur

mengakibatkan banyaknya permintaan akan kemajuan kota dan keindahaannya.. Perkembangan kota Surabaya ini ternyata tidak sejalan dengan rencana tempat pembuangan sampah serta kelayaan pemukiman. Tempat pembuaangan sampah yang seharusnya jauh dari pemukiman hal ini tidak diperhatikan oleh peemerintah, sehingga masyarakat yang tidak berpikir luas menjadikan sebagai tempat pemukiman. Hal ini berlarut-laarut hingga saat ini dan belum ada penanganan yang khusus dari pemerintah kota Surabaya. Dari mayarakat sendiri juga tidak berusaha untuk hidup yang sejahtera jauh dari penyakit.

Perubahan tempat pembuangan sampah terutama yang terjadi di wilayah perkotaan disebabkan adanya pembangunan pemukiman bagi masyarakat yang kurang mampu di wilayah tempat pembuangan sampah dimana pembangunannya mengkonsumsi lahan pembuangan sampah di wilayah tersebut.

Penduduk yang terus meningkat setiap tahun di Kabupaten surabaya pada kenyataannya diikuti oleh peningkatan luas lahan pemukiman. Peningkatan luasan lahan terbangun tersebut sebagian besar mengkonversi lahan pembuangan sampah yang ada sehingga luas lahan pembuanagan sampah menjadi berkurang.hal ini disertai keadaan ekonomi bagi masyarakat kecil semakin lemah sehingga memperbesar angka kemiskinan. Dalam hal ini pemerintah harus berupaya membuwat suatu program untuk membenahi keadaan yang lebih baik. Yang diharapkan masyarakat selama ini mempunyai tempat tinggal atu pemukiman yang layak, bersih, sehat, indah dan dapat hidup dengan rasa aman sejahtera. Serta jauh dari yang menimbulkan penyakit ataupun banjir.

B. Rumusan Masalah

  • Mengapa masyarakat sekarang tidak memperhatikan lingkungan yang bersih, indah, sehat?
  • Apakah keadaan masyarakat seperti ini bisa memajukan lingkungaan?
  • Bagaimana tanggapan awal dari masyarakat mengenai pemukiman di sekitar tempat pembuangan sampah sementara di wilayah gebang?
  • Bagaimana peranan pemerintah tentang lingkungan yang sebagai tempat bermukim selama ini?
  • Apakah masyarakat secara umum dapat diajak dalam menangani persoalan sampah yang berdampak negatif  ini misalnya dalam pendauran ulaang

C. Tujuan

  • Masyarakat mengetahui pentingnya lingkungan yang bebas dari penyaakit serta terlihat indah.
  • Pemerintah dapat menyediakan tempat pemukiman yang layak, kesehatan yang memadai, serta memberikan keterampilan dalam mendaur ulang sampah tersebut.
  • Supaaya tercipta lingkungan yang terampil dan sejahtera

D. Ruang Lingkup

  • Tempat pembuangan sampah sementara di gebang

E. Manfaat

  • Supaya masyarakat sadar akan lingkungan yang bersih, sehat, dan indah.
  • Pemerintah dapat memberikan pelayanan yang dibutuhkan maasyarakat seperti  pelayanan kesehatan dan pelayanan umum lainnya.
  • Dapat mencegah terjadinya banjir, pencemaran lingkungan, dan penyebaran penyakit.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Siapa pernah bermimpi jadi pemulung. Hidup bergantung terhadap bungan atau sampah dari orang lain. Seorangpun tidak pernah memimpikannya. Tapi mengapa sampah bagi mereka sebagai berkah dan sumber pendapatan. Himpitan ekonomi yang mengakibatkan mereka bekerja kerasuntuk memenuhi kebutuhan keluarga dan ada untuk menyekolahkan anaknya. Semakin hari tingkat kemiskinan tidak berkurang malahan terus bertambah. Terbukti yang bekerja sebagai pemulung di daerah ini ada dari daerah lain. Runtuhnya perekonomian yang di bangun oleh rezim orde baru di tahun 1997 tidak hanya berakiobat pada peningkatan jumblah pengangguran di kota ini. Krisis ekonomi yang melilit masyarakat kalangan bawah. Di saat pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang tetap (formal) mereka dengan ingin bertahan hidup mereka terjun sebagai pemulung. Mengumpulkan rejeki melalui sampah. Dan sempitnya lapangan pekerjaan serta faktor pendidikan yang membuat mereka harus bekerja menjadi pemulung. Pekerjaan ini tergolong mudah karena tidak menggunakan dana dan pendidikan yang cukup. Di musim penghujan tiba masyarakat yang tinggal di dekat pembuangan sampah merasa khawatir. Dikarenakan sampah ini bisa saja menyumbat aliran air sehingga menimbulkan kebanjiran hal ini sudah terbukti di kota-kota besar sering terjadi banjir sewaktu musim penghujan tiba. Sebagian besar masyrakat yang menjalani kehidupannya sebagai pemulung sering sekali sakit-sakitan dan tidak hanya mereka saja tetapi masyarakat yang tidak menjalani pekerjaan sebagai pemulung juga terserang penyakit. Sebut saja penyakit kulit yang menghinggapi badan mereka. Tidak cuma penyakit kulit yang tergolong atau kelihatan ringan, bahkan dari sampah yang tidak terkelola dengan baik akan menjadi menakutkan bagi mereka, karena dapat mengakibatkan kematian. Apakah harus ada korban baru mereka sadar akan pentingnya kesehatan bagi mereka. Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi.

Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat.Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat  atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama. Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengelolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sampah bersifat terpusat. Misalnya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuag di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Padahal, dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil, seperti RT atau RW, dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi.

Dari semua dampak negatif sampah harus cepat ditangani oleh semua aspek supaya tidak lagi menakutkan.dengan diadakannya penyuluhan, sosialisasi, ataupun pertemuan yang dirasa bermanfaat bagi masyarakat.

Seperti perencanaan untuk mendaur ulang sampah sebaik-baiknya. Sebenarnya hal ini sudah di susun Paguyuban Surabaya Bersemi (PSB) pada januari 2003 lalu.

PSB merupakan cikal bakal terbentuknya timstakeholder pengelolaan sampah di surabaya, tetapi tidak efisien. Dalam hal ini dibutuhkan tim penggerak untuk memaparkan tentang ini. Menurut Narto tim inilah yang bertugas untuk meyakinkan masyarakat dalam pengelolaan sampah supaya terlihat kota yang indah dan bersih. Pengelolaan yang dibutuhkan saat ini adalah kerajinan yang terbuwat dari sampah dan sampah yang tidak bermanfaat lagi dimusnahkan dengan cara  membakarnya ataupun membuwat tempat untuk penguburan sampah supaya membusuk.dan ini di buwat dua tempat atau lebih. Tempat pertama di isi sampah yang dimungkinkan dapat membusuk setelah itu di tutupi dengan tanah biyarkan sampai membusuk. Tempat kedua digunakan untuk memuat sampah juga karena tempat yang pertama sudah penuh, maka sampah diisikan ke temtat ini dan seterusnya. Bila di tempat pertama sudah membusuk, maka busukan sampah yang menjadi pupuk dimanfaatkan untuk menanam tumbuhan. Dikira pupuk dari busukan sampah sudah habis dimanfaatkan lalu diisi lagi dengan sampah yang baru dan ini dilakukan terus menerus. Dengan hal ini sangat membantu kinerja pemerintah serta menyejahterakan masyarakat. Karena tidak membutuhkan tempat yang luas, dapat mengurangi resiko, dan dapat bermanfaat. Sedangkan sampah yang dapat dimanfaatkan untuk  bahan kerajinan maka di buwat pengelolaan. Sehingga pemulung dapat diajari ketermpilan dalam pembuwatan kerajinan tersebut. Unit yang memanfaatkan sampah contohnya sebagian kecil adalah paembuwata tas dan masih banyak contoh kerajinan yang lain. Sistem pengolalaan sampah seperti ini harus sepenuhnya didukung oleh semua aspek dari pihak pemerintah, perusahaan, serta yang paling sentral masyarakat ebagai tokoh utama. Proses keterlibatan masyarakat secara partisipatoris pengelolaan sampah dalam skala besar menjadi  solusi dalam penanganan sampah.

Dalam hal ini sudah berjalan dengan baik, bahkan tidak menutup kemungkinan terbentuknya perusahaan-perusahaan yang mengelola sampah kembali. Masalah sampah yng selama ini dirasa menakutkan akan menjadi lapangan pekerjaan yang lebih baik dan tidak mendapatkan resiko yang besar. Dapat mencegah banjir dan mengurangi tingkat pengangguran, tingkat kesehatan masyarakat masyarakat semakin tinngi, jauh dari bibit penyakit, mengurangi tinkat kematian, dan menciptakan lingkungan yang bersi, sehat, aman sejahtera, indah, dan bahagia serta tampak indah.

BAB III

METODELOGI

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian penjelasan dan wawancara Penelitian penjelasan adalah penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel – variabel melalui pengujian hipotesa pada data yang sama. Berdasarkan tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel yang diteliti kemudian dianalisis dengan menggunakan metode pengujian antar satu variabel bebas dengan variabel terikat (Mardalis,2002:26)

Jenis penelitian wawancara adalah penelitian yang mencari beberapa narasumber untuk ditanyai (diwawancarai). Hal ini tidak terpaku pada satu narasumber saja. Semakin banyak narasumber maka semakin baik, karena semakin banyak sumber yang di dapat maka semkin bagus data yang kita buat.

B. Penelitian

Penelitian ini akan mengukur sejauh mana variabel. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian langsung ke lapangan (mewawancarai beberapa narasumber) dan  mengambil data dokumentasi dari tempat pembuangan sampah sementara di gebang.

C Pengumpulan Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari sumbernya langsung serta dari pengumpulan dari data-data yang ada. Dan data-data tersebut diperoleh dari buku, internet, informasi yang diperoleh, dan dari media masa yang lain.

E. Analisis Data

Berdasarkan rumusan masalah, untuk mencapai tujuan penelitian maka analisa data yang dilakukan. Untuk membuktikan apakah ada pengaruh antara variable penempatan pembuangan sampah yang baru.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penerbit Pers Mahasiswa Unervisitas Gadjah Mada (BPPM-UGM)BALAIRUNG

JADWAL KEGIATAN

NO KEGIATAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 KETEERANGAN
1 Persiapan
2 Survei ke lapangan
3 Penelitian ke lapangan
4 Pengujian data
5 Evaluasi
6 Perbaikan data
7 Evaluasi akhir
8 Perekomendasian

PERSONALIA

PENGARUH TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH SEMENTARA TERHADAP LINGKUNGAN PEMUKIMAN DI WILAYAH GEBANG

Pelindung                    : Eni

Penaggung jawab        : Eni

Pembantu aktif            : Senior pembimbing ( kakak kos)

Penyusun                     : lugita herwani (6307030017)

RENCANA BIAYA

Anggaran pengeluaran

Dana perijinan tempat pembuangan sampah yang baru         =Rp.    `100.000

Dana perijinan desa                                                                 =Rp.       50.000

Dana trasportasi                                                                      =Rp.       50.000

Tinta Print                                                                               =Rp.       20.000

Penggandaan Proposal            @Rp.3000  x 5 kali                 =Rp.       15.000

Kertas A4                                @Rp. 25.000 x  1 rim             =Rp.      25.000

Biaya narasumber                    @Rp. 10.000 x 5 orang           =Rp.       50.000

Biaya makan                           @Rp. 5000 x 12 hari               =Rp.       60.000

Biaya internet                                                                          =Rp.        8.000

Beli bolpoin                                                                             =Rp.        2.000

Lain – lain                                                                               =Rp.       70.000

Jumlah                                                                                 = Rp      450.000

Anggaran pemasukan

Swadaya masyarakat gebang                                                  =Rp. 100.000

Sumbangan pemda surabaya                                                   =Rp. 250.000

Donatur                                                                                   =Rp. 100.000

Jumlah                                                                                   =Rp. 450.000

LAMPIRAN

SURVEY PENELITIAN

Berdasarkan pada faktor-faktor penyebab rendahnya pemanfaatan rencana tata ruang hasil tinjauan pustaka, dan berdasarkan pada hasil analisis stakeholders. Maka penelitian yang akan dijadikan sebagai dasar untuk melaksanakan survey kelapangan. Berikut penelitian :

Subtansi wawancara              :           Pengetahuan tentang tempat pembuangan                                                                 sampah.

Rincian                                    :           Mengetahui adanya tempat pembuangan                                                                   sampah yang baik dan benar.

Substansi wawancara              :           Memahami rancangan tempat pembuangan                                                                sampah yang baik dan benar.

Rincian                                    :           Pernah melihat dokumen rancangan tempat                                                               pembuangan sampah yang baik dan benar.